Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Wartanto mengatakan program Ayo Kursus dapat mendorong generasi muda meningkatkan kompetensi serta mendapatkan keterampilan baru yang sesuai.

“Program Ayo Kursus mendorong generasi muda kita melakukan 'reskilling' dan 'upskilling', ditingkatkan kompetensinya, diberi keterampilan baru, yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” ujar dia di Jakarta, Sabtu.

Melalui program tersebut, generasi muda bisa mendapatkan keterampilan baru sehingga dapat lebih terserap ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Selain itu, menempatkan mereka tidak hanya pekerja tetapi juga dapat dibimbing agar bisa berwirausaha.

Program itu sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar yang diusung Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim.

Selain itu, katanya, upaya Kemendikbudristek menumbuhkan kembali harapan anak-anak yang putus sekolah agar melanjutkan aktivitas belajar.

Program tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi merupakan salah satu solusi untuk melakukan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan minat dan bakat peserta didik dalam mewujudkan Merdeka Belajar.

Salah satu peserta didik program kursus dan pelatihan, Wayan Martini Asih, mengatakan lembaga kursus dan pelatihan tempatnya menambah ilmu selalu menanamkan nilai-nilai yang baik, seperti memiliki jiwa religius yang tinggi, berkomunikasi efektif, sikap yang baik, pengembangan bakat, dan dapat bekerja sama dengan yang lainnya.

Program Ayo Kursus terdiri atas dua program, yaitu Program Kecakapan Kerja (PKK) dan Program Kecakapan Wirausaha (PKW). Kedua program itu memberikan peluang para lulusan vokasi yang ingin menambah keterampilan untuk bisa bekerja dan berwirausaha. Program ini memberikan kesempatan kepada calon peserta untuk mengikuti kursus pelatihan selama 100-400 jam pembelajaran dengan bantuan dari pemerintah.

Sasaran program Ayo Kursus anak usia sekolah yang tidak bersekolah, tidak sedang berkuliah, tidak sedang bekerja, dan berusia di bawah 25 tahun.

Peserta program Ayo Kursus diutamakan pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP), tidak sedang terdaftar sebagai penerima Kartu Pra-Kerja, dan tidak sedang terdaftar sebagai peserta didik PKK dan PKW yang sedang berjalan.

Baca selengkapnya...