Selamat datang di website BacaSaja.Today. Silahkan bergabung untuk berkontribusi dan membagikan konten yang positif. Berbagai macam konten yang sedang populer, hangat dan viral dapat Anda temukan disini. Dikoleksi dari berbagai sumber yang terpercaya.
Home / News / Lebanon: Negara yang dipersatukan oleh jalur pendakian setelah belasan tahun berdarah akibat perang saudara

News

  • 0
  • 17

Lebanon: Negara yang dipersatukan oleh jalur pendakian setelah belasan tahun berdarah akibat perang saudara

Image: Lebanon: Negara yang dipersatukan oleh jalur pendakian setelah belasan tahun berdarah akibat perang saudara

Hamparan gunung di Lebanon

Sumber gambar, Marsel Khaidarov/Getty Images

Keterangan gambar,

Hamparan gunung di Lebanon

Puluhan tahun setelah perang saudara (1975-1990) yang mengotori wilayah dan menewaskan ratusan ribu orang, Lebanon menggunakan jalur pendakian untuk memperkenalkan keindahan lanskap alamnya. Namun pendakian juga kemudian mampu menyembuhkan jiwa nasionalnya yang terluka karena perang saudara.

Melewati kawasan perkotaan Beirut, bus kami melintasi perbukitan yang landai di jalan raya pesisir Lebanon. Laut Mediterania yang berkilauan di satu sisi dan puncak-puncak terjal menjulang dari kejauhan di sisi lain.

Kami kemudian berbelok ke pedalaman dan mendaki jalan sempit menuju pegunungan di Distrik Koura, bagian utara negara itu.

Dari atas terlihat lereng bukit bertingkat dan atap-atap rumah berwarna kemerahan dari desa-desa di bawahnya.

Kami kemudian menelusuri kebun zaitun dan buah koura serta melewati sebuah kuil di pinggir jalan.

Pemandu kami, Michel Moufarege, yang telah hafal lanskap dan sejarah hampir setiap kantong wilayah di negara ini, menunjukkan peninggalan sejarah kepada saya dan belasan pendaki di dalam mobil: sebuah kuil Romawi.

Kuil itu didedikasikan untuk seorang santo atau pemuka agama Katolik yang menyamar guna menolong warga yang kesulitan saat bekerja di pertambangan semen di sana dahulu.

Sumber gambar, JossK/Getty Images

Keterangan gambar,

Kota Bsharri dikelilingi oleh hutan cedar kuno dan pegunungan berselimut salju.

Setelah itu, kami memasuki hutan cedar kuno Bsharri dan berhenti di Desa Arz untuk beristirahat sejenak dan dilayani oleh perempuan lokal yang menyiapkan manakeesh - hidangan khas Lebanon berupa roti pipih dengan keju atau timi dan wijen za'atar.

Kami pun tiba di tujuan akhir: sebuah jalan setapak yang menjadi pintu masuk menuju puncak gundul Dahr al Qadib setinggi 3.000 meter, salah satu gunung tertinggi di Lebanon.

Saat kami mendaki punggung bukit batu kapur yang curam, beberapa pejalan kaki yang berusia muda terlihat terengah-engah, tetapi tidak bagi Moufarege.

Pada usianya yang ke-77 tahun, tokoh negarawan di dunia pendakian Lebanon itu tampak tidak kelelahan. Ia terus naik ke atas dengan kecepatan yang diatur.

Terlahir dengan kondisi yang membuat lengannya cacat, ia mengandalkan pijakannya yang sangat pasti untuk keseimbangan.

Di puncak, kabut yang menyelimuti gunung di awal perjalanan telah hilang, memperlihatkan panorama dataran dan danau Lembah Beqaa di bawahnya.

Moufarege menolak menyebutkan tempat pendakian favoritnya di Lebanon, tetapi dia berbicara dengan rasa hormat untuk yang satu ini.

"Area di atas pohon aras [spesies dari cedar] dengan rangkaian pegunungan tertinggi adalah sangat istimewa bagi saya karena kemurnian udaranya, karena warna tanahnya, karena hamparan yang terbuka di depan Anda," katanya.

"Tempat ini bagus, tempat yang sangat bagus."

Sumber gambar, Abby Sewell

Keterangan gambar,

Moufarege telah bekerja untuk menciptakan budaya hiking nasional yang menyatukan beragam sekte Lebanon.

Moufarege telah memimpin banyak kelompok pendaki ke beragam pegunungan di Lebanon selama hampir seperempat abad sejak ia mendirikan perusahaan ekowisata pertama negara itu, Liban Trek, pada tahun 1997.

Walaupun kelompok pendaki informal telah ada di Lebanon sebelumnya, perang saudara selama 15 tahun di negara itu (1975- 1990) membuat orang tidak bisa bergerak bebas di sana.

Akibatnya, banyak pejalan kaki mencari pemandu yang berpengalaman untuk menavigasi jalan setapak yang ditandai dengan buruk dan ranjau darat yang tidak meledak yang masih mengotori jalur pendakian.

Jalur yang menyatukan Lebanon

Delapan tahun setelah meluncurkan Liban Trek, Moufarege memainkan peran kunci dalam pembuatan Lebanon Mountain Trail (LMT), yaitu jalur pendakian sepanjang 470 km yang membentang dari utara ke selatan dan menghubungkan lebih dari 75 kota serta desa yang beragam etnis.

Terinspirasi oleh Appalachian Trail di Amerika Serikat, rute ini "menunjukkan keindahan alam dan kekayaan budaya pegunungan Lebanon", dan telah menempatkan negara Mediterania kecil itu di peta pendakian internasional.

Menggunakan pengalamannya yang luas dan lengkap akan medan pendakian dan peta tua Angkatan Darat Lebanon, Moufarege memimpin sebuah penggambaran rute awal jalur tersebut.

Dia menjadi presiden pertama Asosiasi LMT ketika rute dibuka pada 2007.

Melalui Liban Trek dan LMT, Moufarege berupaya untuk menciptakan budaya pendakian nasional baru di Lebanon.

Tujuannya untuk mengajarkan pendaki domestik dan internasional akan keindahan lanskap Lebanon yang beragam - dari hutan ek dan pinus liar di Distrik Akkar utara hingga danau dan kebun anggur di Cekungan Beqaa.

Lalu, lokasi biara-biara dan kapel-kapel yang terletak di lereng gunung Lembah Qadisha - dan terpenting, adalah untuk menyatukan sekte-sekte di Lebanon yang sering terpecah-pecah.

Sumber gambar, Joel Carillet/Getty Images

Keterangan gambar,

Moufarege secara teratur memimpin pejalan kaki melalui Lembah Qadisha yang menakjubkan

Menghubungkan pendakian dengan warga lokal

"Salah satu hal yang [Moufarege] lakukan adalah menghubungkan pendakian dengan komunitas lokal," kata Omar Sakr, presiden Asosiasi LMT saat ini.

"Dia sebenarnya berada di balik ide untuk memanfaatkan rumah-rumah warga sebagai tempat beristirahat para pendaki. Itu tidak umum sebelumnya."

Hari ini, Asosiasi LMT melakukan pendakian tahunan yang santai dan mendalam - ide Moufarege - di mana para pendaki menghabiskan setiap malam di akomodasi lokal dan makan hidangan rumahan dengan penduduk setempat.

Rafic Saliba, yang pertama kali bergabung dengan wisata pendakian Moufarege sekitar 20 tahun yang lalu, dibesarkan di Distrik Matn yang mayoritas beragama Kristen di pegunungan timur Beirut.

Di desanya, makan malam biasanya disertai dengan segelas anggur atau arak rasa adas manis.

Dengan Liban Trek, ia jatuh cinta terhadap puncak dan lembah dramatis di Distrik Akkar utara.

Dan selama ia tinggal di desa-desa yang warganya beragama Muslim Suni itu, di mana alkohol dilarang, ia merasakan bahwa ia dapat berbicara dan tertawa dengan mudah selama beberapa hari ditemani secangkir teh atau kopi setelah makan enak.

Melalui pertukaran seperti ini, Moufarege tidak hanya memperkenalkan turis internasional ke Lebanon, tetapi juga memperkenalkan kembali komunitas yang berbeda-beda di negara itu satu sama lain setelah bertahun-tahun terpecah akibat kekerasan sektarian.

Sumber gambar, Abby Sewell

Keterangan gambar,

Melalui hiking, Moufarege mengajari pengunjung lebih banyak tentang Lebanon, dan orang Lebanon lebih banyak tentang satu sama lain.

"Ketika Anda tinggal dengan [orang yang berlatar belakang berbeda], Anda memiliki pengalaman Anda sendiri, Anda tidak perlu mendengarkan apa yang orang katakan tentang mereka," kata Saliba.

Untuk negara yang luasnya setengah dari Wales, Lebanon sangat beragam.

Populasi negara itu terbagi rata antara Muslim Suni, Muslim Syiah dan Kristen, dan negara secara resmi mengakui 18 sekte yang berbeda.

Perpecahan sektarian berperan dalam terciptanya perang saudara berdarah di negara itu, dan lebih dari 30 tahun setelah perang berakhir, banyak dari perpecahan ini tetap ada.

Melewati batas etnis dan agama

Joelle Rizk, seorang pendaki reguler dengan Liban Trek, mengingat bahwa sebagai seorang gadis, dia dikurung di lingkungannya sendiri di Beirut Timur.

"Ada perang - kami bahkan tidak bisa lolos ke Beirut Barat," katanya.

Sekarang, dalam perjalanan mingguannya dengan Moufarege, dia mendapati dirinya duduk di lereng bukit di daerah yang dulunya terlarang, mengobrol dengan para gembala ternak tentang cuaca dan lanskap lokal.

Pengalaman itu telah membentuk rasa kecintaan yang baru pada negaranya, kata Rizk.

"Saya selalu sedih karena dilahirkan sebagai orang Lebanon, Anda tahu, kami mengalami perang dan kesulitan," katanya.

"Dan setiap kali saya bepergian, saya sangat sedih ketika kembali ke Lebanon. Sekarang, saya sangat senang bahwa saya orang Lebanon. Ini semua karena pendakian."

Sumber gambar, Em Campos/Getty Images

Keterangan gambar,

Moufarege bekerja untuk menunjukkan kepada para pelancong dan banyak orang Lebanon sendiri sisi negara yang belum mereka lihat.

Semangat Moufarege sendiri untuk mendaki dimulai ketika masih kecil.

Ia menghabiskan musim panas di desa pegunungan utara Ehden dan Hasroun bersama keluarganya.

"Sejak kecil saya sudah tertarik dengan puncak dan gunung tinggi itu, bahkan sebelum bisa mendaki," katanya.

Perkenalan resminya dengan pendakian dimulai pada awal 1970-an ketika bergabung dengan kelompok pendaki bernama Le Club des Vieux Sentiers ("Klub Jalan Kaki Tua") yang menelusuri sepanjang rute perdagangan kuno.

Bahkan pecahnya perang saudara Lebanon pada tahun 1975 tidak menyurutkan semangat para anggota klub untuk mendaki gunung.

"Selama perang, kami pergi ke mana pun kami bisa pergi," kenang Moufarege.

"Pada siang hari, kami biasa naik gunung dan kami akan kembali. Akan ada banyak pemboman dan penembakan di Beirut yang bahkan tidak kami sadari. Itu membuat kami tetap bersemangat, dan kami tidak pernah berhenti."

Pada tahun 1997, tujuh tahun setelah perang berakhir, Moufarege memilih untuk meninggalkan pekerjaannya di sebuah perusahaan asuransi untuk menjadi pemandu pendakian penuh waktu.

"Saya akhirnya memutuskan bahwa saya telah mencurahkan begitu banyak waktu [untuk pendakian] sehingga saya akan meninggalkan pekerjaan biasa dan memulai Liban Trek."

Sumber gambar, Anna Om/Getty Images

Keterangan gambar,

Di luar Beirut, Lebanon dipenuhi dengan laguna yang rimbun, hutan lebat, dan air terjun yang menerjang.

Trip pendakian kelompok berpemandu mingguan perusahaan dengan cepat menjadi populer karena alasan sosial dan praktis.

Sebelum pembentukan LMT, banyak jalur di Lebanon merupakan jalur tak bertanda yang dipakai oleh para gembala dan penduduk lokal lainnya yang melakukan perjalanan antar desa.

Moufarege dan pemandu lainnya akan menjaga para pendaki tetap di jalurnya, dan juga menjaga mereka tetap aman dari sisa-sisa ranjau perang yang belum meledak.

Lapangan pendakian penuh ranjau darat

Norbert Schiller mulai bergabung dengan pendakian Liban Trek pada awal 2000-an setelah hampir mengalami kejadian buruk.

Ia dan temannya diteriaki oleh sekelompok penggembala kambing setelah tanpa sadar memasuki lapangan pendakian yang penuh dengan ranjau darat yang tidak meledak.

Meskipun kelompok pemandu bermunculan di Lebanon yang melayani jalur pendakian yang lebih muda dan lebih paham media sosial, Schiller mencatat bahwa Moufarege "memiliki pengikut setia yang luar biasa seperti saya. Orang-orang berkata kepada saya, 'Mengapa Anda tidak mendaki dengan yang lain?' Saya berkata, 'Yah, saya tidak bisa. Saya merasa berhutang budi padanya.'"

Selain pengetahuan yang mengesankan tentang medan pendakian, Schiller menjelaskan bahwa Moufarege memiliki kemampuan luar biasa untuk terhubung dengan siapa pun, di jalur mana pun di negara ini.

Ketika beberapa pemandu lebih memilih untuk tetap berpegang pada wilayah di mana sekte mereka hadir, kata Schiller, Moufarege "memandang Lebanon sebagai satu kesatuan" dan tidak pernah takut untuk berbicara dengan penduduk setempat dengan latar belakang berbeda.

"Dia selalu menjadi orang pertama yang pergi dan memperkenalkan dirinya kepada seorang gembala, atau seorang anggota milisi atau seorang tentara PBB," kata Schiller.

"Saya merasa sangat aman bersamanya di pegunungan. Dia tahu segalanya dan semua orang."

Sumber gambar, Ghady Gebrayel/Eye Em/Getty Images

Keterangan gambar,

Tujuan Moufarege adalah menjadikan Lebanon sebagai tujuan hiking internasional.

Menurut Asosiasi LMT, sebelum protes massal dan krisis ekonomi yang dimulai pada akhir 2019, serta pandemi dan ledakan pelabuhan Beirut pada tahun 2020, Lebanon pernah menjadi tujuan yang populer bagi pendaki internasional.

Walaupun kelompok wisata asing belum datang selama dua tahun terakhir, Moufarege optimistis akan masa depan pendakian di Lebanon.

Ketika ditanya mengapa pendaki internasional harus menjelajahi Lebanon, Moufarege memberikan daftar yang panjang: medan dan flora yang bervariasi di wilayah geografis yang kecil, situs bersejarah dan masakan serta keramahan orang-orang Lebanon, di antara lain.

"Lebanon adalah tujuan yang sangat bagus untuk mendaki, yang fantastis menurut saya, dan ini adalah tujuan pribadi saya: menjadikannya tujuan dunia," katanya.

Baca selengkapnya...

Subscribe News Letter

Your email address will not be this published. Required fields are News Today.

Trending

Berenang di Pulau Australia, Pria Ini Lihat Ikan Terlilit Cincin Emas

Berenang di Pulau Australia, Pria Ini Lihat Ikan Terlilit Cincin Emas

Cincin kawin di leher ikan (Susan Prior / www.norfolkislandreef.com.au) INDOZONE.ID - Seorang perena...

8 Drama Korea ongoing 2021, cocok sebagai teman libur Lebaran

8 Drama Korea ongoing 2021, cocok sebagai teman libur Lebaran

Brilio.net - Pandemi virus corona yang masih mewabah di sejumlah wilayah di Indonesia memaksa masyar...

Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari tidak terima zakat fitrah tahun 2021

Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari tidak terima zakat fitrah tahun 2021

Jakarta (ANTARA) - Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak menerima dan...

Comments

Comment is empty