Berikut ini profil Irjen Pol Nana Sudjana, Kapolda Sulawesi Utara yang turun tangan selesaikan kasus calon siswa (casis) Bintara Polri 2021, Rafael Malalangi.

Persoalan hilangnya nama Rafael Malalangi dari daftar kelulusan casis Bintara Polri 2021 akhirnya selesai.

Polda Sulawesi Utara memutuskan untuk meloloskan Rafael Malalangi sebagai casis Bintara Polri 2021.

Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan merespons kasus hilangnya nama Rafael, Polda Sulut akhirnya memanggil Rafael dan keluarganya.

Dari pertemuan itu, kata Kombel Pol Jules, Kapolda Sulut Irjen Nana Sudjana mencari solusi dengan cara mengajukan penambahan kuota calon siswa (casis) Bintara Polri 2021 kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

“Usulan dari Kapolda Sulut diterima oleh bapak Kapolri,” kata Jules saat dikonfirmasi, Jumat (30/7/2021).

Dengan kata lain, kata Jules, Kapolri sepakat untuk mengambil jalan tengah untuk dapat menambah kuota agar nama Rafael tetap dapat ikut masuk Casis Bintara Polri 2021.

“Sehingga bapak Kapolri mengambil kebijakan untuk menambah kuota Pabanrim Polres Minsel menjadi 23 orang,” katanya.

Nana Sudjana menjabat sebagai Kapolda Sulawesi Utara sejak 4 Maret 2021.

Sebelum menjadi Kapolda Sulawesi Utara, Nana Sudjana menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli Kapolri di Mabes Polri.

Nama Nana Sudjana sempat menjadi sorotan setelah dicopot sebagai Kapolda Metro Jaya pada November 2020.

Pencopotan Nana Sudjana diduga terkait dengan pembiaran kerumunan massa Rizieq Shihab di Petamburan, Jakarta.

Nana Sudjana lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 26 Maret 1965.

Ia merupakan perwira tinggi lulusan Akademi Kepolisian RI tahun 1988 dan berpengalaman di bidang intel.

Sebelumnya, Nana pernah menduduki jabatan, di antaranya Kapolresta Solo pada 2010 yang saat itu Wali Kotanya adalah Jokowi.

Nana Sudjana kemudian digantikan Listyo Prabowo yang kini menjadi Kapolri.

Dari Solo, Nana Sudjana ditarik menjadi Dirintelkam Polda Jateng tahun 2011.

Lalu beralih Analis Utama Tk. I Baintelkam Polri pada 2012 dan Analis Kebijakan Madya bidang Ekonomi Baintelkam Polri pada 2013.

Pada 2014, Nana Sudjana menjadi Dirintelkam Polda Jawa Timur.

Ia juga pernah menjadi Wakapolda Jambi pada 2015 dan Wakapolda Jawa Barat pada 2016.

Jenderal bintang dua ini juga pernah menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak Mei 2019.

Pada 7 Januari 2020, ia mengemban amanat sebagai Kapolda Metro Jaya ke-39 menggantikan Gatot Eddy Pramono yang dilantik sebagai Wakapolri.

Kronologi Singkat Kasus Rafael

Nama Rafael Malalangi mendadak viral di media sosial, terutama di Sulawesi Utara.

Tak lain setelah kisah pemuda asal Minahasa Selatan itu gagal menjadi calon siswa (casis) Bintara Polri karena namanya mendadak hilang dari daftar kelulusan.

Padahal pada saat pengumuman kelulusan yang dilakukan secara online, nama Rafael Malalangi tercantum dan menduduki peringkat ke-22.

Namun pada pengumuman kedua, nama Rafael Malalangi hilang alias sudah tidak ada dan digantikan dengan nama orang lain.

Kisah Rafael Malalangi yang gagal lolos jadi casis Bintara Polri pertama kali diketahui dari akun Facebook, Christofel Tumalun.

Kompolnas mengkritisi kasus hilangnya nama pemuda asal Minahasa Sulawesi Utara, Rafael Malalangi yang sempat dinyatakan lulus dalam seleksi calon Bintara 2021.

Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto menyampaikan pihaknya telah mengklarifikasi kasus tersebut kepada Polda Sulawesi Utara.

Diduga, ada salah input nilai bidang jasmani dalam kepesertaan calon Bintara 2021.

“Untuk kasus di Polda Sulut, sudah dilakukan klarifikasi dan penjelasan bahwa terjadi salah input nilai bidang jasmani sehingga peserta yang merasa nilainya salah input mengajukan protes. Setelah dicek bersama peserta lainnya akhirnya terbukti bahwa memang salah input nilai,” kata Benny saat dikonfirmasi, Jumat (30/7/2021).

Menurutnya, salah input nilai jasmani inilah yang membuat nama Rafael yang sebelumnya dinyatakan lulus kemudian berubah menjadi tidak lulus.

Ia menyampaikan ada human eror yang dilakukan oleh panitia seleksi calon bintara 2021.

Namun, Benny mendorong penelusuran lebih lanjut apakah ada motif lain di balik kasus ini.

“Karena sudah terlanjur diumumkan maka peserta yang tadinya sudah dinyatakan lulus akhirnya terkoreksi menjadi tidak lulus. Ini menyangkut human error sehingga perlu dicek kembali, apakah murni salah input atau ada faktor lain,” jelasnya.

Di sisi lain, pihaknya mengharapkan Polri untuk segera berbenah agar kasus serupa tidak terulang lagi dan membuat kegaduhan di publik.

“Diharapkan kedepan perlu dilakukan pengecekan berjenjang dan berulang supaya dipastikan tidak ada salah input atau salah jumlah dari masing-masing komponen penilaian,” tukasnya.

Baca selengkapnya...