JAKARTA - Thailand akan menggunakan vaksin COVID-19 AstraZeneca sebagai dosis kedua, bagi mereka yang menerima vaksin Sinovac sebagai dosis pertama mereka dalam upaya untuk meningkatkan perlindungan.

Langkah ini merupakan campuran pertama yang diumumkan secara publik dari vaksin China dan vaksin yang dikembangkan Barat, karena studi pendahuluan baru di Thailand menimbulkan keraguan tentang perlindungan jangka panjang dari dua dosis vaksin Sinovac.

"Ini untuk meningkatkan perlindungan terhadap varian Delta dan membangun kekebalan tingkat tinggi terhadap penyakit ini," kata Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa dosis kedua AstraZeneca akan diberikan tiga atau empat minggu setelah suntikan pertama Sinovac, mengutip Reuters Senin 12 Juli.

Belum ada penelitian khusus tentang pencampuran Sinovac dan AstraZeneca yang dirilis, tetapi semakin banyak negara yang mencari campuran dan kecocokan vaksin yang berbeda atau memberikan dosis penguat ketiga, di tengah kekhawatiran varian baru dan lebih menular dapat lolos dari vaksin yang disetujui.

Pengumuman itu muncul sehari setelah Kementerian Kesehatan Thailand mengatakan 618 pekerja medis dari 677.348 personel yang menerima dua dosis vaksin Sinovac terinfeksi dari April hingga Juli, dengan seorang perawat meninggal dunia.

Selain itu, Thailand sekarang berencana untuk memberikan suntikan penguat vaksin mRNA impor kepada pekerja garis depan, yang diberi Sinovac impor sebelum vaksin AstraZeneca yang diproduksi secara lokal tersedia pada Bulan Juni.

Pada Hari Senin, sebuah studi pendahuluan di Thailand terhadap 700 pekerja medis menunjukkan, tingkat perlindungan Sinovac yang diukur dengan tingkat antibodi berkisar antara 60 persen dan 70 persen selama 60 hari pertama setelah dosis kedua, tetapi tingkat tersebut terus turun dari waktu ke waktu.

"Dari penelitian kami, jika staf medis kami menerima dua dosis Sinovac, mereka pasti harus mendapatkan suntikan booster ketiga," Sira Nanthapisal, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Thammasat. Meski demikian, para peneliti belum merilis data studi lengkap mereka.

"Mereka bisa melakukannya baik antara AstraZeneca atau Pfizer ketika tiba, dan kami akan terus memantau antibodi mereka," lanjut Sira.

Terpisah, seorang perwakilan AstraZeneca menolak mengomentari keputusan Thailand, dengan mengatakan kebijakan vaksinasi adalah masalah yang harus diputuskan oleh masing-masing negara. Sementara, Sinovac tidak menanggapi permintaan komentar pada Hari Senin.

Bulan lalu, juru bicara Sinovac Liu Peicheng mengatakan kepada Reuters, hasil awal dari sampel darah yang divaksinasi menunjukkan pengurangan tiga kali lipat dalam efek penetralan terhadap varian Delta. Dan, menyarankan dosis ketiga untuk menimbulkan reaksi antibodi yang lebih tahan lama.

Untuk diketahui, Thailand menerapkan pembatasan ketat mulai hari sejak pandemi COVID-19 tahun lalu, di tengah gelombang varian Alpha dan Delta yang sangat mudah menular, dengan kasus meningkat menjadi hampir 10.000 per hari dan rekor kematian.

Baca selengkapnya...