Selamat datang di website BacaSaja.Today. Silahkan bergabung untuk berkontribusi dan membagikan konten yang positif. Berbagai macam konten yang sedang populer, hangat dan viral dapat Anda temukan disini. Dikoleksi dari berbagai sumber yang terpercaya.
Home / News / Sherpa terakhir di Eropa, mengangkut ratusan kilogram dalam cuaca ekstrem di usia lanjut

News

  • 0
  • 38

Sherpa terakhir di Eropa, mengangkut ratusan kilogram dalam cuaca ekstrem di usia lanjut

Image: Sherpa terakhir di Eropa, mengangkut ratusan kilogram dalam cuaca ekstrem di usia lanjut

9 Mei 2021

Sumber gambar, Štefan Bačkor

Keterangan gambar,

Para porter berusia lanjut di High Tatra membawakan bahan makanan, kayu bakar, dan perlengkapan logistik lainnya untuk pendaki gunung.

Di sebuah bangunan kayu penuh dengan ornamen di kota Stary Smokovec di kaki Pegunungan High Tatra di Slovakia, sejumlah alat panggul bersandar ke dinding.

Alat panggul itu terlihat mirip kereta luncur, kecuali ambin atau tali untuk menggendongnya di punggung.

Beberapa alat panggul itu sangat tinggi hingga menyentuh langit-langit. Beberapa di antaranya terpasang dengan dalam satu rangkaian dengan ransel.

Inilah adalah alat panggul yang digunakan porter di Tatras.

Dalam bahasa lokal, mereka dikenal sebagai horsky serpa alias pemandu sekaligus porter di gunung.

Mereka juga disebut dengan terminologi horskynosi, yang berarti pembawa barang di gunung.

Alat-alat panggul tadi digunakan untuk membawa beban berat ke pondok perhentian di gunung atau chalet yang menjual minuman dan terkadang menyediakan tempat tidur untuk pendaki.

Meski warga setempat memanggil para porter ini dengan sebutan sherpa, mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan kelompok etnis Sherpa yang berasal dari Tibet di Pegunungan Himalaya dan Nepal.

Sejumlah alat panggul tadi dipajang di Museum Sherpa.

Namun alat panggul seperti ini masih digunakan untuk membawa perbekalan, naik dan turun jalur pegunungan High Tatra yang curam.

Pegunungan High Tatras membentang sepanjang perbatasan Slovakia utara dan Polandia.

Pada musim panas, pendaki gunung ini dapat melihat pemandangan hutan, danau berkilauan, dan lembah yang luas.

Mereka juga bisa mengagumi flora dan fauna sambil menjelajahi ratusan kilometer jalur pendakian.

Sementara saat musim dingin, pegunungan berbatu dan puncak gunung bergerigi yang menjulang hingga 2.500 meter ini menghembuskan udara yang aneh.

Pada periode ini, High Tatra tertutup salju dan es serta terlihat mencolok di atas garis pepohonan.

Para sherpa terakhir Eropa di pegunungan ini mendaki jalur terjal dan berbahaya melalui puncak ini ke ketinggian hingga 2.250 meter.

Para pemanggul tadi mengenakan ski dan sepatu khusus salju.

Mereka melilitkan rantai untuk mengikat beban ke tubuh mereka selama mendaki lereng vertikal.

Alat panggul yang diikat ke punggung mereka dengan tali bahu yang berat itu merupakan rangka khusus yang bobotnya mencapai 8 kilogram.

Mereka membawa makanan, minuman, kayu bakar dan perlengkapan lain yang dibutuhkan selama pendaki beristirahat di pondok, seperti bahan bakar, tabung gas dan sprei.

Total bobot yang mereka panggul sering kali lebih dari 100 kilogram.

Para sherpa ini bekerja di segala cuaca, dari musim panas yang terik hingga musim dingin yang penuh badai salju, termasuk saat suhu anjlok hingga -20 derajat celsius atau ketika segalanya membeku di pegunungan itu.

Ketika saya berkunjung pada hari yang dingin di bulan Januari lalu, Swiss House, tempat Museum Sherpa berada, dikelilingi oleh salju.

Salah satu sherpa tertua yang bernama Peter Petras (75 tahun) sedang minum teh di kafe sebelahnya.

Petras masih membawa beban berat ke pondok gunung beberapa kali seminggu.

Dia ternyata bukan porter tertua. Rentang usia sherpa yang masih aktif di pegunungan adalah dari 17-79 tahun.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Pegunungan High Tatra di Slovakia.

Petras berkata kepada saya bahwa dia melakukan pekerjaan ini karena dia mencintai gunung. Dia tidak melakukannya demi uang.

"Menjadi porter bukanlah pekerjaan, itu adalah gaya hidup," katanya.

"Bagi porter sungguhan, uang ada di peringkat kedua. Prioritas pertama adalah gunung," ucapnya.

Setiap pondok pemberhentian di High Tatra memiliki penjaga. Setidaknya delapan sherpa secara bergiliran bekerja dan tinggal di pondok.

Tugas mereka bervariasi, dari membersihkan dan memelihara pondok, menyiapkan makanan, mengatur bahan bakar dan memanaskan atau membersihkan salju dari halaman pondok.

Porter kadang-kadang memberi petunjuk arah kepada pendaki. Sekitar 60 sherpa bekerja di pegunungan High Tatra pada musim panas.

Saat musim dingin, jumlahnya hanya setengahnya.

Sebagian porter di pegunungan ini bekerja penuh waktu, tapi sebagian lainnya masih berstatus pelajar atau mempunyai bisnis lain.

Petras pertama kali terinspirasi menjadi sherpa pada usia 10 tahun. Ketika itu dia melihat abangnya, Jozo dan Ivan, melakukan pekerjaan itu. Jozo adalah salah satu porter terkuat.

Dia pernah membawa oven seberat 137 kilogram ke pondok Zbojnicka di ketinggian 1.960 meter di lembah Velka Studena Dolina.

Petras menjadi porter ketika dia putus sekolah, tapi kemudian dia menjalani dinas militer dan melanjutkan studi.

Pada akhirnya dia meraih gelar doktor ilmu filsafat di Universitas Bratislava. Namun kecintaannya pada High Tatras membawa Petras kembali ke gunung.

Dia bekerja sebagai guru di pagi hari dan sebagai porter di sore hari. Itu adalah keseimbangan yang sempurna.

"Ketika sesi pelajaran sekolah berakhir, saya bisa melupakan aktivitas mengajar dan berharap bisa menyendiri di alam. Saya beristirahat secara mental. Di sekolah, saya beristirahat secara fisik," ujarnya.

Ketika pensiun sebagai guru, Petras terus menjadi seorang sherpa. Dia memperbaiki dan kini mengelola pondok Rainerova.

Ini adalah pondok tertua di pegunungan, dibangun tahun 1863 bagi pendaki yang hendak berlindung dari cuaca buruk.

Sumber gambar, Štefan Bačko

Keterangan gambar,

Sherpa di Pegunungan High Tatra mengangkut logistik yang tidak dapat diangkut kereta gantung dan helikopter akibat pembatasan akses cagar alam.

Rainerova tidak menyediakan akomodasi tapi para pendaki sering berhenti di bangunan kecil berbahan batu itu untuk menikmati minuman dan melihat koleksi peralatan panjat tua dan ski milik Petras.

Pada musim dingin, Petras mengukir patung dari salju.

Petras masih membawa beban seberat 60-70 kilogram ke pondok di ketinggian 1.301 meter itu. Dia melakukannya lima atau enam kali dalam satu pekan.

Dalam perjalanan turun dari gunung, Petras memunguti sampah. Pondok itu hanya 20 menit berjalan kaki dari kereta gantung.

Jadi ini bukan rute yang panjang untuk mengangkut barang, tapi Petras bekerja di salah satu rute yang ditempuh dalam dua jam perjalanan.

"Kalau musim dingin bisa memakan waktu delapan jam karena cuaca buruk," ujarnya.

Ketika pariwisata dimulai di Tatras pada pertengahan abad ke-19, orang membayar kuli panggul untuk membawa makanan atau minuman mereka.

Saat jalur pendakian dikembangkan dan tempat berlindung dan bermalam dibangun, para porter itu membawa bahan bangunan untuk konstruksi dan kemudian persediaan makanan, minuman, serta bahan bakar untuk para tamu mereka.

Hal itu juga terjadi di tempat lain di Eropa, seperti di Pegunungan Alpen. Namun ketika kereta gantung dan jalan dibangun di Alpen, kuli angkut tidak lagi dibutuhkan. Profesi itu hilang.

Di Tatras, jenis pembangunan yang sama dijaga seminimal mungkin karena merupakan kawasan konservasi alam dan cagar biosfer.

Jadi porter masih diperlukan untuk membawa muatan ke pondok.

Petras berkata, sherpa akan selalu mendaki membawa persediaan meski cuaca buruk.

"Sherpa tahu bahwa pondok bergantung padanya, jadi dia harus membawa beban itu."

"Ini pekerjaan yang sangat berbahaya," ujarnya.

Dua puluh tahun yang lalu, seorang sherpa di High Tatras terbunuh oleh longsoran salju.

"Dua porter terbunuh oleh cuaca, satu orang membeku.

Kelihatannya romantis karena kami menyukainya, tapi kondisinya bisa sangat berbahaya.

Anda harus hidup melalui banyak hal, sendirian, kedinginan, ketakutan. Badai bisa terjadi. Anda bisa membeku," kata Petras.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Jalur pendakian Pegunungan High Tatra mencapai ratusan kilometer.

Dalam bukunya yang berjudul Na Chodníku Chodník (Jalan di jalan setapak), Petras menulis tentang keterampilan yang dibutuhkan para sherpa.

Porter, kata dia, membutuhkan "fisik yang baik, terutama pada daya tahan, kemauan, ketahanan, keseimbangan, pengalaman di pegunungan, keterampilan memperkirakan secara realistis kekuatan seseorang, kemampuan, pengabdian, kerendahan hati, dan iman".

Stevo "Pista" Backor, yang mendirikan Sherpa Caffe and Museum bersama istrinya, Martina, adalah sherpa profesional selama lebih dari 20 tahun.

Backor masih bekerja mengangkut beban beberapa kali dalam sebulan untuk menjaga hubungan dengan komunitas porter gunung.

"Saya merindukannya," kata Backor. "Hampir semua aktivitas dalam hidup saya tertuju pada komunitas ini, di pondok gunung."

Backor dan Martina bertemu di pegunungan saat dia bekerja di sebuah gubuk.

Backor berkata, saat berangkat ke pondok gunung para porter membawa kebebasan, tapi juga beragam emosi.

"Anda menikmatinya sambil sedikit mengkhawatirkan cuaca. Anda bisa mulai di bawah sinar matahari dan satu jam kemudian bisa berada di badai dengan kecepatan angin 150 kilometer per jam dengan salju lebat," ucapnya.

Bahkan dalam cuaca yang membuat pendaki mengurungkan niat melanjutkan ekspedisi, sherpa masih terus berjalan.

Petras mengingat pengalaman terburuknya pada suatu musim dingin. Ketika itu dia basah kuyup dan salju mulai turun.

Ketika sampai di pondok, tubuhnya membeku. "Ini bukan tentang suhu, ini lebih tentang perubahan cuaca yang cepat," kata Petras.

Ketika sampai di pondok, dia berlari ke dapur dan menuangkan teh panas ke kepala dan tangannya.

Sumber gambar, Anadolu Agency/Getty Images

Keterangan gambar,

Setiap tahun ajang lomba pendakian antarsherpa berlangsung di Pegunungan High Tatra.

"Beberapa hal bisa Anda ungkapkan tapi ada banyak perasaan tidak bisa Anda gambarkan," katanya.

Menurut Petras, sherpa terkuat yang saat ini aktif di High Tatras adalah Viktor Beranek (69 tahun).

Dia yang membawa perbekalan ke pondok tertinggi di pegunungan Tatra, Chata pod Rysmi (Rysy) di ketinggian 2.250 meter.

Sementara sherpa tertua adalah Laco Chudík (79) tahun.

Dia masih bekerja satu atau dua kali dalam sepekan. Bukan untuk uang tapi untuk kesenangan, menurut Backor.

"Dia adalah mesin, dia tidak berhenti," ujarnya.

Backor berkata, dia hanya mengenal satu sherpa perempuan. Kawannya itu meninggal pada usia 92 tahun 2017.

Banyak sherpa berkata bahwa hal yang paling penting bagi mereka adalah perasaan bebas.

Mereka sangat merasakan hal ini selama pemerintahan komunis berkuasa, saat banyak sendi kehidupan dibatasi.

"Setiap pondok gunung seperti pulau gratis," kata Backor.

"Di bawah sistem Komunis, bekerja sebagai sherpa seperti hidup dalam kebebasan.

Setelah akhir pekan, semua orang pergi dan bekerja di pabrik atau kantor, lalu menantikan akhir pekan berikutnya dan dua atau tiga hari kebebasan," ujar Backor.

Petras menyukai Tatras karena pegunungan ini tidak ramai.

Karena berstatus taman nasional dan cagar biosfer Unesco, kendaraan seperti mobil salju dan sepeda quad dilarang, kecuali untuk tim penyelamat.

Satwa liar yang dilindungi di cagar alam ini, antara lain termasuk beruang coklat, lynx, serigala, rubah, marmut, tikus salju, dan chamois Tatra yang terancam punah.

Petras ingin agar pekerjaan unik sherpa juga dilindungi. Petras berkata, gaya hidup seperti ini yang menjaga daya tahan tubuhnya.

"Ketika orang bertanya, 'tapi bagaimana dengan kesehatanmu?'

Saya menjawab, 'Saya tidak tahu karena saya belum pernah ke dokter selama 20 tahun terakhir'," ujarnya.

Petras sering mendaki ke puncak sendirian untuk bersantai.

Dia memberi tahu saya bahwa yang paling dia sukai dari Tatras adalah mendaki pada malam hari.

"Itu relaksasi terbaik untuk jiwamu," tuturnya.

---

Baca selengkapnya...

Subscribe News Letter

Your email address will not be this published. Required fields are News Today.

Trending

Berenang di Pulau Australia, Pria Ini Lihat Ikan Terlilit Cincin Emas

Berenang di Pulau Australia, Pria Ini Lihat Ikan Terlilit Cincin Emas

Cincin kawin di leher ikan (Susan Prior / www.norfolkislandreef.com.au) INDOZONE.ID - Seorang perena...

8 Drama Korea ongoing 2021, cocok sebagai teman libur Lebaran

8 Drama Korea ongoing 2021, cocok sebagai teman libur Lebaran

Brilio.net - Pandemi virus corona yang masih mewabah di sejumlah wilayah di Indonesia memaksa masyar...

Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari tidak terima zakat fitrah tahun 2021

Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari tidak terima zakat fitrah tahun 2021

Jakarta (ANTARA) - Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Cengkareng, Jakarta Barat, tidak menerima dan...

Comments

Comment is empty